Zhifa
A passionate young soon-to-be medical doctor with interest in writing and #HealthForAll

Ocehan Sakit Gigi


Sudah berapa lama ya di rumah karena Pandemi Covid19 ini? Agaknya sudah sekitar 1 bulan... lama juga. Saya sekarang posisinya sedang mengetik sambil sakit gigi karena baru menggunakan retainer lagi setelah beberapa lama, dan tidak nyaman sekali... jadi saya mencoba mengganti fokus dengan menulis postingan di blog. Alih-alih mengubah fokus, malah jadi ingat kalo sedang sakit gigi, karena saya menulis tentang sakit gigi. Ha!

Ngomong-ngomong, gimana kabar para pembaca semua? Semoga dalam keadaan sehat walafiat ya, aaamiin. Pandemi Covid19 ini memang membuat banyak hajat yang terhambat, tapi rumah sakit jadi banyak urusan. Saya tidak terbayang sih gimana kondisi rumah sakit-rumah sakit rujukan Covid19 di Indonesia sekarang. Pasti fokus tertuju pada penanganan penyakit dan keselamatan kerja para tenaga medis diantara pasien-pasien yang telah dinyatakan positif Covid19 maupun yang masih dalam pemantauan. 

Kalau mau berkomentar tentang handling pemerintah terkait masalah ini, saya punya seabrek komentar yang kalau ditulis mungkin harus dibagi menjadi beberapa bagian, namun saya tidak ingin merusak malam ini dengan terlalu memikirkan hal tersebut. Detik ini saya sedang memikirkan nasib pasien-pasien Non-Covid19 di rumah sakit rujukan. Apa kabarnya ya mereka?

Menjadi pasien Non-Covid19 di tengah Pandemi ini adalah a blessing and a curse. A blessing karena alhamdulillah tidak teinfeksi virus baru yang masih belum jelas terapi standar emasnya apa. Namun menjadi curse juga karena dinomor-duakan, dan sulit mau kemana-mana karena takut malah ikut terinfeksi Covid19. Membayangkan ibu hamil dengan ketuban pecah dini yang tidak memiliki kendaraan untuk ke rumah sakit dan sekitar rumahnya tidak ada bidan... astagfirullah... ngeri. Atau pasien yang harusnya dijadwalkan operasi besar, seperti pengangakatan massa ganas di usus besar namun harus ditunda... Semoga semuanya dalam kondisi stabil ya, aaamiin.

Rasanya seluruh resources rumah sakit digunakan untuk menangani pasien Covid19, APD juga pastinya lebih didahulukan penggunaannya di bangsal yang menangani pasien dengan penyakit tersebut. Padahal berbicara dari pengalaman, sebelum ada Pandemi Covid19 ini, APD juga sudah lumayan sulit, terlebih di rumah sakit tempat saya ditugaskan untuk belajar. 

Masalah alat pelindung diri alias APD ini memang sangat vital dalam pekerjaan sebagai tenaga medis. Sebelum menolong yang lain, harus dipastikan bahwa diri sendiri aman, terlindungi. Tidak dalam bahaya. Apalagi dalam mengobati pasien dengan penyakit yang menular melalui droplet dengan virulensi yang tinggi, seperti virus anyar ini. 

Saya tuh kadang bingung, kalau memang dari awal di dunia sudah mengerti ada outbreak virus baru di salah satu negara dengan penduduk terpadat di dunia, mengapa pemerintah kita tidak mengambil tindakan awal untuk mencegah penyebaran penyakit ini ke negara kita ya? Bolehlah menteri confident dengan keyakinannya bahwa Covid19 ini bukan sebuah momok yang perlu ditakuti, tapi dengan tidak mengambil langkah apapun? Hadu, benar-benar kecolongan. 

Sedikit cerita, diawal outbreak di Wuhan saja, saya sudah mempersiapkan masker dan disposable gloves (niatnya untuk APD sendiri di rumah sakit, karena di RS saya juga ada pembatasan penggunaan APD), walaupun hanya 1 box sih masing-masing. Tapi, masa pemerintah yang memiliki banyak sumberdaya, yang dengan sebuah surat saja bisa menggerakan banyak instansi dan pemilik usaha untuk mengambil langkah pencegahan, memproduksi APD masal, membatasai gerak warga asing maupun warga negara Indonesia, malah tidak bisa? 

Lebih lucu lagi, diawal outbreak Wuhan, pemerintah kita malah memberikan insentif puluhan miliar rupiah untuk mempromosikan pariwisata Indonesia... cukup aneh memang, seperti tidak bisa membaca situasi saja. Apalagi dengan literasi kesehatan masyarakat di Indonesia yang rendah, dengan gaya hidup lumayan santuy yang masih percaya hal-hal mistis, superstitions, dan cerita kearifan lokal dibanding pengobatan berbasis bukti.

Sedih. Sekarang sudah banyak korban meninggal, banyak juga dari sejawat kami yang adalah tenaga kesehatan. PSBB baru diterapkan di beberapa daerah dan masih harus menunggu clearance dari Kemenkes. Sebenarnya, yang mau diselamatkan itu siapa sih?

Comments