Terik Matahari, Mata dan Beberapa Hal Lain


Sebenarnya saya ingin bercerita banyak. Kemarin saya lihat langit Wonosari kelabu tapi panasnya menikam kulit, sudah beberapa bulan ini memang tidak pernah hujan. Ada yang berbeda tahun ini, saya rasa, harusnya bulan ini kota saya sudah diguyur, tapi belum ada tanda-tanda awan akan menangis; yang menangis malah petani-petani. Kemarin saya sempat ngobrol dengan bapak yang tinggal disamping kosan, katanya, ada beberapa petani yang terpaksa merugi karena telah menanam bibit saat minggu lalu nampak akan hujan. Bibit tersebut mati, tidak jadi tumbuh. Saya turut sedih.

Saya jadi teringat dengan pasien-pasien dengan pterygium (keluhannya adalah muncul selaput pada mata, rasanya mengganjal) yang kontrol ke poli mata. Pterygium adalah keadaan tumbuhnya jaringan fibrovaskuler di konjungtiva (bagian mata yang warnanya putih) yang bisa sampai ke kornea (bagian bulat ditengah mata, yang dibaliknya ada iris yang berwarna), kalau sampai menutup pupil (yang bisa membesar dan mengecil kalau ada cahaya -- bagian dari mata yang tugasnya mengatur banyaknya cahaya yang masuk), nanti tidak bisa melihat. 

Sumber foto: eyewhitemd.com
Sebenarnya penyebab pasti dari pterygium sampai saat ini masih diperdebatkan, tapi ada beberapa faktor risiko yang telah tergali. Salah satu faktor risiko pterygium adalah paparan sinar ultraviolet, iritasi kronis pada mata, mikrotrauma kronis pada mata. Mungkin karena ini kali ya, makanya banyak petani yang datang dengan keluhan muncul selaput pada bola mata. Saya kasian juga... sebenarnya ingin mengedukasi untuk pakai topi, kacamata (untuk melindungi mata dari cahaya langsung matahari), tapi masa iya, bercocok tanam pakai kacamata? Pasien-pasien tersebut juga akan terganggu produktivitasnya jika harus memakai banyak ornamen. Belum lagi harus beli sendiri. Nambah biaya pula. Akhirnya, bingung juga, harus memberikan edukasi proteksi mata seperti apa untuk pasien yang bekerja dibawah sinar matahari langsung. 

Dari buku yang saya baca, jika pterygium menunjukan tanda radang, misal mata merah, perih, bisa juga diberikan air mata buatan/artificial tears, bila perlu diberikan steroid. Penanganan utama untuk pterygium sendiri adalah operasi. Operasi ini dilakukan kalau "selaput" sudah mencapai 2mm ke dalam kornea. Kebanyakan kasus pterygium akan berulang sih... saya sempat baca, selain operasi, dapat juga diberikan terapi tambahan misalnya Mitomisin C atau Avastin yang isinya Bevacizumab; untuk cara kerja kedua obat ini untuk menghambat pertumbuhan fibroblast dan pembuluh darah baru (soalnya kedua obat ini masuk golongan anticancer, jadi ya intinya menghambat pertumbuhan sel dan pemasoknya, dalam hal ini, pembuluh darah), sehingga bisa mengurangi rekurensi dari pterygium alias tidak tumbuh lagi. 

Banyak pasien yang datang ke poli menghendaki dokter spesialis mata untuk melakukan pembedahan saja, karena rasa mengganjal yang tidak nyaman pada mata karena pterygium. Ada juga yang karena alasan kosmetik, misalnya pada pasien-pasien dengan usia yang lebih muda. Baiknya, sekarang pasien tidak perlu takut akan biaya karena pterygium bisa di klaim dengan BPJS. Ya, pasien senang, semoga juga, hak-hak para pekerja kesehatan termasuk dokter tetap dipenuhi BPJS dan tidak didzolimi sistem ya, aaamiin. Saya rasa hal ini perlu saya garis bawahi karena ada pandangan bahwa dokter yang kerap mempersulit urusan pasien, dan ini, dan itu, padahal dari pengalaman saya di rumah sakit, semua telah bekerja keras, mempermudah urusan, dan ikhlas untuk para pasien -- pasien-pasien pun senang dengan pelayanan di rumah sakit, walaupun tak jarang ada juga yang komplain misal antri lama, atau minta langsung dirujuk ke rumah sakit tipe B padahal kasusnya bisa tertangani dan terselesaikan di RS tipe C (sedikit info, rujukan berjenjang di rumah sakit tempat saya bekerja telah sesuai dengan panduan BPJS, jadi tidak sembarang kami merujuk pasien. Mungkin bisa dijadikan catatan ya, bahwa yang berhak menentukan apakah pasien perlu dirujuk atau tidak adalah dokter yang menanganinya, bukan atas permintaan pasien sendiri -- kecuali, pasien memang menjalani pengobatan di RS tipe tertentu dan perlu memperpanjang rujukannya, jadi harus meminta rujukan kembali ke RS tipe C misalnya, dengan membawa surat surat keterangan diagnosis (untuk kontrol kembali) dari RS tipe B).

Pada akhirnya, sudah menjadi bagian dari seorang dokter untuk membantu menyembuhkan pasien, menjadi edukator agar orang-orang dapat menghindari penyakit dan menghindari sakit, menjadi manager untuk dirinya sendiri dan campaigner untuk isu-isu yang penting diketahui khalayak ramai dan patut untuk diperjuangan demi kebaikan umat. Saya berdoa semoga hujan cepat turun, lebih sedikit orang sakit dan sistem kesehatan di negara ini bisa menjadi lebih baik, efisien dan transparan. Segitu dulu yaa, semoga postingan ini bisa bermanfaat! Aaamiin Yaa Rabbal Alamin.

0 Comments