Dear Pasien, Semangat!


Ada beberapa hal yang saya temui di rumah sakit yang ternyata kerap saya bawa pulang, bawa tidur, dibawa lagi ke rumah sakit, lalu dibawa pulang lagi. Hal-hal seperti lelah, atau kesedihan.

Dulu, semasa di poliklinik kesehatan jiwa, saya sering meneteskan air mata ketika melihat pasien atau keluarga pasien yang mengantar untuk kontrol rutin. Pasien-pasien yang datang memiliki beragam kondisi, dari yang tidak bisa mengekspresikan dukanya, diam saja... atau tatapan kosong di mata mereka ketika mau bercerita, hingga yang terlihat terlalu bahagia... dan keluarga yang mengantar... oh... keluarga yang mengantar selalu berusaha dengan cara terbaik mereka merawat pasien dan menghargai tenaga kesehatan yang mereka temui di rumah sakit. Saya menyadari ini karena seringkali mendapati keluarga pasien yang mungkin mengenakan pakaian terbaik mereka, batik... padahal dari rumah ke rumah sakit saja, banyak yang harus jalan kaki berkilo-kilo meter. Saya sedih, hanya sedikit yang bisa saya lakukan untuk mereka, acap kali saya hanya bisa mendengarkan. Saya membawa pulang kesedihan yang saya rasakan dengan harapan, setelah dibawa pulang, mungkin dia akan diam, dan mungkin, hilang... ternyata, saya malah mendapati diri ini membawa pulang lebih banyak kesedihan lagi, hari demi hari.

Lalu, semasa di rotasi penyakit dalam, saya sering dicap sebagai koass cengeng oleh perawat-perawat di salah satu bangsal di rumah sakit tempat saya menimba ilmu. Katanya, saya pasti akan menyendiri di ruang obat dan menangis ketika ada salah satu pasien yang meninggal. Bagaimana tidak, pasien yang saya sayang, yang saya ikuti perkembangannya setiap hari, yang kerap bercanda, yang kerap berlebihan dalam berterima kasih, harus kembali pulang... tapi bukan ke rumahnya, bukan ke keluarganya. Saya tidak tahan kalau harus melihat keluarga pasien menangis, membayangkan diri berada di tempat mereka saja sudah sulit... apalagi harus mengarungi duka mendalam seperti itu, di tempat asing... tempat yang bukan rumah.

Sekarang, di rotasi ilmu bedah, saya kerap membawa pulang bayang-bayang penyakit yang mengharuskan seseorang dibuka untuk disembuhkan, membawa pulang bayang-bayang menjadi pasien yang pasrah dan, dengan penuh harap, harus membiarkan orang lain melihat isinya, dalam artian yang sebenarnya. Dalam bayangan saya, tersayat silet saja rasanya mau marah-marah dan menangis karena sakitnya, rambut terlihat sedikit saja malu sekali sama orang yang melihat, padahal mungkin tidak sengaja... apalagi harus tidak bepakaian dan dilihat banyak orang dengan pencahayaan maksimal, dan dibedah lagi... rasanya... tidak kuat. 

Postingan ini saya persembahkan untuk pasien-pasien (dan keluarga serta sahabat, orang-orang tersayang dan terdekat pasien) yang sedang berjuang dalam perang mereka masing-masing, yang dengan doa, daya, dan upaya, sedang berusaha untuk menjaga dan meraih kesehatan untuk "rumah satu-satunya" titipan اللّٰه yang mereka miliki di dunia, tubuh dan hidup mereka. Kalian kuat!

0 Comments