Ilmu Penyakit Dalam; Lelah yang Menyenangkan!


Saya baru saja menyelesaikan salah satu stase mayor untuk pendidikan profesi dokter, stase Ilmu Penyakit Dalam. Biasanya disingkat menjadi UPD atau Unit Penyakit Dalam; stase dengan jaga malam terbanyak sejauh ini, dengan seabrek konsulan dan pasien rawat bersama yang banyak jumlahnya. Selama saya koass, baru di UPD saya harus rawat inap... dengan diagnosis infeksi favorit warga koassisten semua; demam tifoid! Selebihnya, segala stress, cemas, kurang tidur, waktu membaca yang terpotong karena harus mengurus pasien yang kondisinya kurang baik, terbayar indah. Memang, tidak ada hasil yang mengkhianati usaha!

Jadi, stase penyakit dalam itu berapa lama sih?
Stase ilmu penyakit dalam ini harus dilalui selama 11 minggu; 10 minggu aktif jaga pagi, jaga malam bangsal dan IGD, 1 minggu terakhir tidak jaga malam karena minggu ujian. Setidaknya, itulah aturan selama saya masih di stase tersebut dan waktu belajar itu yang menetapkan dari fakultas saya.

Apa saja yang dipelajari selama stase IPD?
Banyaaaaaaaaak... kamu tahu kan buku ajar IPD FK UI ada 3 jilid yang tebalnya ribuan itu? Hehehe, ya itu yang dipelajari, walaupun tidak semua kasus dibuku tersebut saya temu di RS tempat saya belajar. Kebanyakan kasus adalah infeksi tropis, mulai dari DF/DHF, demam tifoid, leptospirosis, pasien dengan ISK, juga pasien lansia yang infeksi tapi biasanya masuk karena anorexia geriarti. Pasien hipertensi emergensi, DM baik tipe 1 maupun tipe 2, KAD, pasien dengan gagal jantung kongestif (CHF) juga banyak, sering sekali dapat pasien ini; kadang sudah datang dengan oedem anasarka (bengkak seluruh tubuh). Saya malah sering bertemu pasien dengan kelainan ritme jantung, misalnya VT, malah sempat menemui Torsade de Pointes. Pasien serangan jantung juga banyak... ada yang STEMI anterior, anteroseptal, inferior (ini yang paling bikin deg-degan), dan pasien-pasien NSTEMI. Pasien CKD yang perlu dialisis juga banyak, rata-rata di RS kami adalah pasien CKD stage V, biasanya juga dengan komorbid penyakit lain. Pasien PPOK eksarsebasi akut, pasien dengan asthma attack, bronkhitis atau bronkopneumonia, sempat juga dapat pasien dengan ateletaksis, SOPT, TB pulmo, B20. Kemarin juga kami temui pasien dengan kolelitiasis, kolesistisis, pasien sirosis hepatis, pasien carsinoma haptoselular, pasien GEA dengan dehidrasi sedang-berat, hematochaezia, melena, hematemesis ec ruptur varises esofagus atau hematemesis ec gastritis erosiva. Ada juga pasien dengan kelainan darah,  pasien dengan CLL (chronic lymphocytic leukemia), pasien CML, pasien thalassemia mayor maupun minor,  banyak deh... hehehe.

Cara belajarnya gimana?
Karena kebanyakan waktu dihabiskan di rumah sakit bersama pasien, ya belajarnya dari gejala dan tanda langsung yang ada pada pasien. Kemudian, karena kami setiap pagi follow up pasien, ya belajar juga dari situ, misal kenapa ya didiagnosis ini atau itu, kenapa ya terapinya ini atau itu. Biasanya nanti brainstorming bersama atau baca pas sudah di kosan; atau langsung nanya ke konsulen alias dokter spesialisnya. Selain itu juga ada presentasi kasus, jadi dari presentasi kasus itu kami belajar banyak mulai dari status pasien hingga tatalaksana menurut guideline yang terbaru. Tapi memang lebih sering belajar di nurse station sembari deg-degan menunggu dokter visite, biasanya kan ditanya nanti pasiennya kenapa, sudah diapakan, kira-kira kenapa penyebabnya, baiknya diapakan... gitu lah, jadi memang sudah harus siap-siap. Saya sendiri tidak terlalu sering membaca IPD FK UI sih jadinya, karena buku itu terlalu tebal dan tidak portable alias susah dibawa kemana-mana, jadinya ya belajar dari mininotes atau dari buku ajar FK UGM (hanya 1 jilid, lebih mudah dibawa, tapi materinya belum selengkap IPD FK UI) atau membawa catatan rangkuman dari sumber-sumber yang valid (versi saya, dibawa di papan scanner, mulai dari materi jantung, EKG, sampai infeksi sudah ada disitu, biasanya 1 penyakit 1 lembar, tapi kekurangannya tulisan saya keciiiil sekali jadi susah bacanya kalau dari jauh). Untuk Harrison Internal Medicine kebetulan tidak saya baca... karena tidak punya! Hahaha, oh iya tapi saya juga belajar dari USMLE step 1 dan step 2, disitu ada beberapa materi yang saya baca; lebih simpel penjelasannya dan mudah diingat.

Ujiannya seperti apa?
Ujian apa dulu nih? bukannya hidup itu sendiri adalah ujian... hahaha, malah ngebanyol. Kalau ujian stase dari fakultas saya ada beberapa bagian. Pertama, ujian OSLER dengan DPK atau dokter pembimbing kinik yakni dokter spesialisnya; kebetulan kemarin saya berkesempatan ujian bersama dr. Yuli Astuti, M. Sc., Sp. PD., Sp. JP -- setelah itu, ujian OSLER lagi dengan DPF alias dokter pembimbing fakultas, kemarin kelompok saya diuji oleh dr. Ana Fauziyati, M. Sc., Sp. PD kemudian ada ujian tulis, totalnya ada 100 MCQs. Untuk ujian dengan DPK berbeda-beda ya, ada yang di presentasikan, ada yang ujian 4 mata di poli seperti saya dan Ulfa (kebetulan kami berdua diuji oleh dokter yang sama). Kalau ujian dengan DPF, dikumpulkan jadi satu dan ditanyakan kasusnya satu per satu. Masing-masing dokter beda aturan sih, misalnya dengan dokter Ana, yang menjawab hanya yang punya kasus, kalau dengan dokter lain mungkin pertanyaannya akan dilemparkan ke yang lain jika si pemilik kasus ujian tidak mampu menjawab pertanyaannya. Begitu... tapi insha'Allah, didalam kesusahan pasti ada kemudahan. Belajar, berdoa dan dilakoni saja, pasti selesai... hehehe.

Kesannya seperti apa selama di stase IPD?
Kesannya... jadi dokter spesialis penyakit dalam dan spesialis jantung & pembuluh darah memang harus punya tenaga ekstra karena jumlah pasien yang masha'Allah banyak sekali ya, jadi bingung juga saya. Tapi banyak sekali ilmu yang didapat selama saya di stase ini, mulai dari ilmu kesabaran yang saya dapat dari dokter spesialis dan dari pasien-pasien di bangsal, ilmu pengetahuan dasar anamnesis, penegakan diagnosis, pemberian terapi dari dokter spesialis, komunikasi dokter-pasien, update ilmu alias CME (continuing medical education); soalnya ditengah kesibukan merawat pasien, dokter-dokternya tidak pernah lupa ikut seminar untuk tahu perkembangan terbaru ilmu kedokteran; salut! Saya juga pertama kali melihat mesin ekokardiogram... ingin punya satu... super cool!

Apakah akan mengambil spesialis penyakit dalam?
Sebelum masuk stase ini, bahkan sampai di pertengahan stase, saya sudah berpikir untuk tidak melanjutkan sekolah spesialis. Tapi... setelah dipiki-dipikir, dirasa-rasa... jadi pengen ambil spesialisasi hahahaha. Sebenarnya, untuk spesialis penyakit dalam sepertinya tidak, tapi saya sangat senang dengan jantung dan pembuluh darah! Jadi... Insha'Allah tekad bulat untuk ambil spesialis Jantung & Pembuluh Darah. Bismillah... Allahumma yassir wa la tu assir... aamiin. Mohon doanya ya, semua! Terima kasih banyak... 







0 Comments