Hadiah Idul Fitri untuk Diri Sendiri

Setelah 1 bulan penuh berpuasa sambil bekerja, meningkatkan kualitas dan kuantitas beribadah, penghujung bulan suci Ramadan datang jua. Idul Fitri kali ini dilalui tanpa mama dan papa yang merayakan di rumah, saya nebeng di rumah Oom A. M. Tuasikal. Salah satu percabangan Bani Amin  Tuasikal di Yogyakarta. To my surprise, ternyata sepupu-sepupu saya di Jogja ini banyak sekali jumlahnya, 2 ruang kelas mungkin penuh jika diisinya. Alhamdulillāh.



Syawal kali ini, saya memutuskan untuk menghadiahi ketenangan untuk diri sendiri. Beberapa kali telah saya utarakan badai dalam diri kepada psikiater saya, kata beliau saya terlalu banyak self-blaming, dan salah satu cara untuk berhenti menyalahkan diri sendiri adalah dengan mengkonfirmasi. Beberapa kali juga saya meminta pendapat sahabat-sahabat saya, dan mereka mendukung the quest for confirmation ini. Akhirnya, hadiah saya kepada diri sendiri yang telah saya dambakan sejak tahun lalu, berani saya berikan. Setelah berulang kali, lagi dan lagi, meramu, merumuskan, hati-hati mempertimbangkan, akhirnya saya eksekusi rencana yang ada di kepala untuk melepaskan beban perasaan yang telah lama dipendam itu. Rasanya legaaaaaaaaa sekali. Begini toh ternyata rasanya dapat closure; hati tenang, kepala dingin, pertanyaan-pertanyaan sudah terjawab. Semoga lega terus, ya, Zhifa. Semoga tidak ada lagi yang berani, atau ingin, atau dengan tidak sengaja, mengusik ketenanganmu. Aaamiiinn.

0 Comments