Zhifa
A passionate young soon-to-be medical doctor with interest in writing and #HealthForAll

Singapura, Coldplay dan Paula

Sesungguhnya yang membuat sedih adalah harus berpisah dengan sahabat yang kurang lebih sedang menjalani proses yang sama, berjuang sendiri di tanah yang bukan asalnya dan sedang berusaha mati-matian untuk menjadi baik. semoga Allah merahmati perjuangan kami ini, amiiinnn…
Saya mengenal Paula Alicia de Fretes (Paula) dari tahun 2013, sekitar bulan Maret atau April saat baru saja pindah ke SMA 1 Ambon. Awalnya kami tidak dekat, hence, I was not close to anyone at school karena masih kikuk dengan suasana sekolah baru dan harus menyesuaikan diri lagi dengan lingkungan sekolah yang bukan asrama. Paula menyelesaikan SMP di SMP Kalam Kudus, yang juga adalah sekolah beberapa teman saya semasa di asrama dulu, mungkin hal itu satu-satunya things that we had in common. Singkat cerita, kami jadi dekat karena sama-sama menyukai artis kondang hollywood mulai dari  Justin Bieber sampai Logan Lerman, Paula juga senang membaca novel, sama seperti saya.
Paula adalah teman pertama saya di SMANSA yang mengundang saya ke acara ulang tahunnya. Waktu itu diantar Papa bersama Andika (si baik hati yang sekarang sedang menempuh pendidikan di Universitas Brawijaya), Uni (manusia paling sabar dan pintar) dan Ragilya (sejawat yang menetap di Ambon), usut punya usut, Papa saya kenal dengan Ibu-nya Paula yang sama-sama birokrat. Saat kelas 12, masa-masa sibuk persiapan UN (di SMANSA kami sebut dengan “Pemantapan” jadi kelas kami dibagi menjadi 2 kelas yang lebih kecil dan kelas dimulai lebih pagi, membahas soal-soal UN tahun-tahun sebelumnya dan melakukan banyak latihan soal) Saya dan Paula kemudian sering memanggil diri kami dan beberapa teman yang senang membawa bekal ayam goreng (atau delivery KFC (hal yang sering dilakukan mama untuk saya) atau membeli nasi ayam yang dijual di kantin sekolah) dengan sebutan “Ayam Goreng The Explorers” hal ini sering menjadi bahan candaan di kelas, tapi saya senang.
Paula sekarang sedang menjalani pendidikan Business-Administration di UCSI (KL, Malaysia), sangat mandiri dan tambah baik hati. Paula dan Saya bulan November lalu memang sudah berencana untuk mendatangi konser Coldplay di Singapura bersama, waktu itu kami sempat stress karena belum mendapatkan tiket untuk konser tanggal 1 April, padahal sudah coba membeli saat pre-sale maupun saat sale di website SportsHub Singapore. Akhirnya pada suatu Jumat yang entah tanggal November berapa, penjualan tiket kembali di buka dan Paula berhasil masuk dan bisa membeli 2 tiket untuk kami (saya berusaha untuk membeli dari Jogja, bahkan sampai meminta tolong agan penyedia jasa pembayaran via kartu kredit, tapi kami tidak bisa lolos dari virtual waiting room, LOL).
Saya sampai di Singapura tanggal 1 April 2017 pukul 11 pagi waktu setempat, setelah terbang sekitar 2 jam dari Jogja menggunakan maskapai AirAsia. Setibanya di Changi International Airport, saya berkeliling sebentar sambil menunggu Paula yang masih dalam perjalanan dari Kuala Lumpur. Menghabiskan waktu beberapa jam di terminal 1 sambil membaca buku yang saya beli bulan Februari (sedihnya sampai sekarang belum selesai karena saya benar-benar take notes dan mencoba menerapkan tips-tipsnya di kehidupan sehari-hari). Pukul 3 sore, Paula akhirnya sampai dan kami bertemu di terminal 2; sebelumnya saya menumpangi SkyTrain dari terminal 1. Awalnya saling mencari, tapi tiba-tiba saya melihat sosok Paula yang menggunakan backpack biru dan baju putih, kemudian layaknya Teletubbies, kami langsung berpelukan LOL. Perjalanan kami lanjutkan menggunakan MRT ke rumah oma Lyly di Tampines. Alhamdulillah, saldo kartu transportasi saya masih ada SG$ 7, tapi saya memutuskan untuk top up SG$ 10 lagi agar nanti selepas konser saya tidak perlu mengantri untuk top up bersama entah berapa banyak manusia yang akan hadir disana. Sesampainya di tempat oma Lyly, kami bergegas, Paula mandi, saya sholat kemudian saya mandi dan Paula ber-make-up ria. Kami langsung menuju National Stadium Singapore dengan perasaan deg-degan campur bahagia dan takut hujan.

Alhamdulillah! Akhirnya saya bisa melihat secara langsung konser Coldplay. The Coldplay Concert was spectacular and amazing, just like what I expected, bahkan om Chris dan kawan-kawan sempat membawakan lagu favorit saya; Don’t Panic dari album pertama mereka yakni Parachute yang dirilis tahun 2000.


Bones, sinking like stones, all that we fought for, and homes, places we’ve grown, all of us are done for. And we live in a beautiful world, yeah we do, yeah we do, we live in a beautiful world.
Lagu hits lain dari beberapa album lama juga turut dibawakan, seperti Death and All of His Friends, Paradise, Charlie Brown, Princess of China, In My Place dan masih banyak lagi.


The concert was amazing, awesome and full of dreams (haha, meniru judul tour Coldplay di album baru mereka ini) tapi saya mendapatkan lebih banyak daripada itu. Selepas konser, Paula dan saya menumpang MRT ke kediaman Oma saya yang memang sudah menetap dari lahir di Singapura. Saat sampai rumah Oma Lyly, kami terlibat perbincangan panjang tentang perkuliahan dan kehidupan. Banyak details yang saya dapatkan dari Paula yang insya Allah sangat membantu. Saya sedih dan senang, karena ternyata ada teman sepenanggungan yang merasakan hal-hal yang kurang lebih sama dengan apa yang sering saya rasakan, bahkan mungkin lebih. Satu yang paling saya ingat dari Paula adalah, kurang lebih seperti ini, “iya Syif, berharap untuk Tuhan saja, dan berusaha lihat hal-hal baik yang terjadi dibalik apa yang katong pikir sebagai musibah, mungkin Tuhan memang pingin katong melihat itu, dan berdoa Syif, berdoa saja…” yang kemudian Paula lanjutkan dengan menceritakan pengalamannya saat berusaha untuk melihat hal-hal baik di segala sesuatu yang terjadi. 


Saya sangat senang dan tersentuh, mungkin inti dari kunjungan saya ke Singapura kali ini bukan untuk melihat konser Coldplay, tapi untuk bersilaturahmi dengan sahabat lama dan berbagi cerita dan mencoba memahami kehidupan. Wallahualam, yang jelas saya bersyukur.

Comments