Zhifa
A passionate young soon-to-be medical doctor with interest in writing and #HealthForAll

Perkara Meninggalkan dan Ditinggalkan

Saya baru saja sadar bahwa hidup ini memang dipenuhi dengan berbagai macam pilihan-pilihan yang memusingkan -at least for me- tapi mungkin sama sekali biasa untuk orang kebanyakan. Pilihan-pilihan yang banyak itu meliputi apakah hari ini masih ingin terus berjuang? atau lebih kepada… adakah yang masih patut diperjuangkan?

Saya tidak menuliskan postingan ini sebagai seorang perempuan yang terlalu sering membaca kumpulan cerpen dan puisi sedih, tidak seperti itu. Tapi sebagai seorang eternal pessimistic person, saya merasa ada satu hal yang kurang dari semua perjuangan-perjuangan dan lelah yang telah saya korbankan. Apa yang kurang? bahwa setiap manusia yang saya sayang, orang yang sedang saya perjuangkan has the tendency to left me, dalam artian ia bisa saja meninggalkan saya kapanpun ia mau dan apa yang saya rasakan bukanlah sebuah masalah baginya dan bahwa I have the tendency to left him, too, dan masalah perasaannya adalah urusan dia sendiri. Dalam hal ini ada 2 roles yang dimainkan, role yang meninggalkan dan role yang ditinggalkan.

Menurut saya, meninggalkan sebenarnya merupakan sebuah self-defense mechanism. Kenapa? karena saat anda memilih untuk meninggalkan, anda menutup kesempatan untuk diri anda menjadi korban. Benar bukan? dalam kebanyakan kasus, orang-orang yang ditinggal adalah mereka yang dilihat sebagai korban, pihak yang perlu dikasihani, orang yang terlukai. Kemudian, yang meninggalkan biasanya selalu di cap sebagai si pembuat onar atau si tidak punya hati. Tapi kalau di tilik lebih lanjut lagi, hanya karena seseorang memilih untuk ditinggalkan, bukan berarti jenengan dewa atau orang suci. Banyak kasus toxic relationship dimana si tidak punya hati mencoba untuk play the victim, memilih untuk ditinggalkan agar tidak di cap ini dan itu oleh orang lain, agar bisa dianggap sebagai pihak yang harusnya dikasihani.

Ah, sudahlah, mungkin saya sedikit mabuk siang ini.
Yang jelas, orang yang sedang saya perjuangkan, anda selalu ada dalam kesemogaan di tiap 5 waktu setiap hari saya, dan saya berdoa, semoga diantara kita nanti tidak ada perkara meninggalkan dan ditinggalkan.




Ditulis didalam taxi Vetri nomor 38,
dalam perjalanan ke McDonalds,
Yogyakarta 24/09/2016

Comments

Post a Comment